Oleh : Dian Akinda*
Bagaimana dengan tangga harap yang tertimbun empuk bantal.
Siang silih siang
Malam berganti malam hanya menjahit kacau ingatan.
Adzan tak lagi menjadi kobar risalah perjalanan.
Seperti ambang pintu yang diketuk tamu lalu pergi tanpa amsil
dalam diri
Semuanya kelu tuntas diambang pintu.
Disini katamu,
Jangankan harap bisa menuai temu
Tumpukan baju menjadi beban air
Yang dirindukan matahari dalam sampaian.
Tak ada bangun pagi disini
Apalagi matahari
Semua sekedar ingin dalam mimpi.
Lagi lagi
Mencuat ke permukaan bayang
Bersanding kasih dengan ritus perjalanan.
Disini
Sirine kebahagiaan sedang dibangun dengan
Jelajah kenangan masa silam.
Melukis kembali peta peta wajahmu
Merangkainya menjadi cerita selaik nyata
Yang hampir raib tertimbun waktu.
Sepertinya hanya tuhan segala pasrah
Kutitipkan segala resah kerinduan
Diantara gelap malam yang menudingku
Di ranjang tidur
Jember, 2022

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan pesan komentar positif